RSS

Penambahan pintu perlintasan atau pelebaran jalan

Kepada Yth:

Direktur PT. KAI dan Gubernur DKI Jakarta

Selamat pagi, Pak.

Saya warga di Kecamatan Matraman, di Jalan Pisangan Baru Tengah. Saya adalah pecinta kereta api dan sangat senang sekali mengetahui bahwa jadwal komuter bertambah banyak, alhamdulillah. Saya tahu bahwa konsekwensinya adalah pintu perlintasan kereta api yang di dekat rumah saya akan sering tertutup demi keamanan semua pihak. Saya senang dan bersyukur dan tidak mengharapkan perubahan apapun dari segi jadwal kereta.

Tidak ada masalah sama sekali tentang penambahan jadwal itu, tapi sayangnya perangai warga Kecataman Matraman memang terbiasa tidak taat pada peraturan sehingga, seperti yang saya pernah tulis dalam email saya kepada Bapak Wakil Gubernur, jalan Kayumanis Barat yang sempit (Cuma dapat dilewati 2 mobil dg kecepatan 5km per jam) itu selalu parah karena banyaknya motor yang melawan arus meskipun sudah dipasangi rambu verboden. Saya sudah pernah menyampaikan hal ini kepada Pak Camat, tapi menurut beliau, pihak kepolisian juga tidak berkutik karena pihak kepolisian tidak tega (atau tidak berani?) menilang pengemudi sepeda motor yang melanggar marka verboden itu.

Sejak penambahan jadwal komuter, kemacetan bertambah parah. Saya lihat beberapa petugas sudah diturunkan, tapi apa daya jumlah pengemudi sepeda motornya banyak sekali, petugas yang kewalahan akhirnya menyerah, dan justru membantu pengemudi sepeda motor untuk melawan arus. Entah apakah petugasnya itu sebelum berdiri di posisinya sudah memeriksa rambu di sekitarnya sebelum bertugas, ataukah dia langsung mejeng saja tanpa memahami peraturan apa yang dia harus tegakkan.

Tadi pagi untuk jarak sekitar 200m, ditempuh dalam waktu 1 jam, Pak. Saya kesal bukan pada kereta api, tapi pada pengemudi sepeda motor. Saya tahu bahwa hal ini adalah karena mental sebagian pengemudi motor memang masih primitif. Apa boleh buat, pak. Sekarang kita sudah tahu bahwa yang diatur itu mentalnya begitu, kita sebagai yang lebih waras selayaknya mencari jalan keluar lain. Jalan keluarnya banyak, dan saya yakin bahwa Pak Ahok dan Pak Direktur KAI juga sudah tahu dan pasti dapat membantu. Saya Cuma mengingatkan saja bahwa pilihannya adalah sbb:

Pilihan Plus Minus
1 Melebarkan jalan Kayumanis barat dari Cuma 8m saat ini menjadi 40m seperti gambar di tata kota. Semua masalah kemacetan langsung lenyap 80%nya (yang karena mental, harus menunggu hingga generasi primitif ini meninggal semua). Lama dan mahal.
2. Menambah petugas dan menambah titik penugasan, bukan Cuma di di pintu perlintasan, tapi juga mencegah sejak beberapa titik sebelumnya. Cepat dan langsung terasa. Sayangnya petugasnya bekerja angin-anginan. Biasanya Cuma 2 hari, dan sayangnya mereka juga tidak paham rambu di sekitar wilayah yang mereka jaga.
Menambah pintu perlintasan, di jl. Kayumanis 4 baru, yang memang menurut gambar tata kota, akan diperlebar menjadi jalan 20m. Toh sekarang tempat itu sudah dijadikan pintu perlintasan tidak resmi oleh ratusan motor. Setengah cepat, dan akan mengurangi setengah masalah kemacetan. Saya tidak tahu apakah PT. KAI bersedia menambah pegawai untuk menjaga pintu perlintasan baru ini.
Saya sebaiknya pindah saja, jangan tinggal di sana. Langsung selesai semua masalahnya. Saya belum punya uangnya untuk pindah. Lagipula, berarti kan masalah kemacetan ini masih dialami puluhan ribu warga Kecamatan Matraman lainnya.

Menurut google, jarak antara pintu perlintasan yang sekarang di Jl. KHA Dahlan (titik A) dengan pintu baru yang disarankan di Kayumanis 4 Baru dekat Tegalan (titik B), adalah sekitar 800m.

pintu perlintasan

 

Saya tidak tahu apakah jarak segitu oke atau tidak oke menurut PT. KAI untuk membuka pintu perlintasan baru yang dijaga petugas. Tapi kalau tidak oke, jalan keluarnya tolong dibuatkan, pak. Saya tahu bahwa bapak-bapak sudah memikirikan hal ini. Surat ini Cuma untuk mengingatkan bapak-bapak bahwa jalan keluar atas masalah ini dibutuhkan segera.

Terimakasih banyak sebelumnya.

Semoga Jakarta makin manusiawi dan PT. KAI makin untung.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Juni 2014 in Uncategorized

 

Forerider

Kalau saya jadi Gubernur, saya akan menghapuskan izin operasional forerider kecuali untuk Presiden dan Tamu Negara.

Forerider hanya menyembunyikan masalah yang sebenarnya: Awut-awutannya lalu lintas Jakarta dan menimbulkan masalah baru: Kemacetan yang disertai arogansi penunggang forerider.

Adanya forerider akan membuat para pejabat pemerintah dan siapapun di pemerintahan tidak merasakan perlunya pengaturan lalu lintas yang lebih baik karena mereka cukup membayar beberapa forerider untuk mendapatkan jalan pribadi untuk mereka.

Padahal jalan itu dibangun dengan menggunakan uang orang-orang yang tidak pernah menggunakan jasa forerider.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2012 in Uncategorized

 

Tugas Gubernur

Tugas Gubernur, bukan cuma untuk mengatasi kemacetan dan mengatasi banjir, tetapi terutama adalah membangun kota yang:

  1. Aman
  2. Sehat
  3. Nyaman
  4. Mensejahterakan.

Dan yang harus dikerjakan untuk mencapai semua itu cukup banyak, tetapi mudah. Semua yang harus dikerjakan pasti terselesaikan kalau dikerjakan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Januari 2012 in Rencana

 

27 Trilyun

Apa yang anda akan lakukan bila memiliki Rp.27,000,000,000,000 setiap tahun untuk dibelanjakan untuk Jakarta?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Januari 2012 in Rencana

 

Bahaya Keruwetan Jakarta

Hal yang paling mengenaskan dari dampak keruwetan Jakarta bukanlah masalah ekonomi biaya tinggi (atau bahasa inggrisnya: ineficiency), melainkan masalah hilangnya nyawa.

Kalau cuma masalah ekonomi biaya tinggi / ketidakefisienan, semua itu dapat dibayar dengan uang. Bernilai uang yang dapat dihitung. Tetapi keruwetan Jakarta punya dampak yang lebih mengerikan daripada sekedar ketidak-efisienan. Keruwetan ini dapat berdampak pada hilangnya nyawa, yang pasti tidak dapat dihitung dengan uang.

Kemacetan lalu lintas pasti menghalangi jalannya ambulance. Atau menghalangi jalannya bajaj atau taxi yang membawa orang yang butuh segera dibawa ke Unit Gawat Darurat di Rumah Sakit.

Kemacetan lalu lintas pasti menghalangi jalan blanwir / mobil pemadam kebakaran sehingga dapat mengakibatkan tidak terselamatkannya jiwa yang berharga.

Keruwetan di sepanjang bantaran sungai sangat membahayakan jiwa orang-orang yang dibiarkan tinggal di sepanjang bantaran sungai itu. Pendangkalan sungai menyebabkan banjir, banjir besar dapat menghanyutkan orang, seperti yang berkali-kali telah terjadi.

Keruwetan di sepanjang terminal menyuburkan tindak kriminal. Pak Gubernur pasti tahu berapa nyawa yang hilang karena tindak kriminal ini.

Pak Gubernur akan dimintai Tuhan pertanggung-jawaban atas kepemimpinan Pak Gubernur selama menjabat. Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak tambahan kekayaan Bapak selama menjadi Gubernur, atau apakah biaya kampanye pemilihan kemarin sudah balik modal. Tuhan hanya akan peduli pada apakah Bapak telah menjadi Gubernur yang efektif atau berantakan.

Semoga Pak Gubernur bisa menjadi pemimpin yang efektif, ya Pak. Sehingga tidak perlu menderita seperti Marcos (mantan Presiden Filipina) sebelum meninggal. Uangnya yang berlimpah itu tidak berhasil menyelamatkannya dari hukuman Tuhan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Januari 2012 in Bahaya

 

Tag: , , ,

Jembatan

Jakarta dilewati oleh 13 sungai yang membelah Ibu Kota dari selatan menuju utara.

Sementara ini hanya di wilayah kota tua sajalah Jakarta memiliki jumlah jembatan yang cukup dengan jarak yang cukup berdekatan sehingga lalu lintas di wilayah sepanjang aliran sungai tidak terhalang. Sementara di wilayah di Selatan Jakarta, di mana saat ini sebagian besar warga Jakarta tinggal dan beraktivitas, justru sangat kekurangan jumlah jembatan.

Contoh sederhana:

Kalau kita berada di sekitar jalan Gajahmada dan berdiri di salah satu jembatannya, kita akan dengan mudah melihat jembatan di sebelah utara atau selatannya, sementara kalau kita melakukan hal yang sama di wilayah sekitar Jakarta Selatan, kita tidak akan dapat melakukannya. Bukan karena sungainya berliku, melainkan karena memang jarak antar jembatan sangat berjauhan.

Jembatan penyebrangan sungai sangat penting.

Terutama adalah untuk mengurangi jarak tempuh kendaraan. Saat ini, kalau kita sedang berada di wilayah sekitar stasiun kereta api Pasar Minggu dan hendak ke wilayah Condet, kita harus memutar jauh dengan 2 pilihan yang sama jauhnya: 1) lewat Kalibata, atau 2) lewat belakang gedung Antam.  Sehingga perjalanan yang seharusnya berjarak kurang dari 1km harus dilakukan lebih dari 4km, karena harus memutar. Akibatnya kendaraan harus berada di jalan raya lebih lama, sehingga ikut meningkatkan penggunaan jalan raya dan berarti ikut berkontribusi dalam menambah kemacetan.

Padahal kalau kita buatkan jembatan 4 jalur (2+2) + trotoar di kiri-kanan, yang dibuat di atas Sungai Ciliwung yang melintasi belakang Stasiun Kereta Api Pasar Minggu, akan banyak sekali pengurangan penggunaan jalan raya karena penghematan jarak tempuh tersebut.

Hal ini berlaku di seluruh sungai di Jakarta.  Jarak antar jembatan seharusnya maksimum 500m, dan itu berarti sekitar 20 jembatan lagi harus dibangun sehingga lalu lintas lebih lancar hidup di Jakarta makin menyenangkan.

Semoga Pak Gubernur mendapat kemudahan untuk dapat melaksakan amanat membangun kota demi perbaikan Jakarta, ya Pak.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Januari 2012 in Uncategorized

 

Impian saya tentang Jakarta

Assalamu’alaikum Pak Gubernur,

Saya yakin akan baik sekali kalau Pak Gubernur tahu tentang impian semua warna Jakarta tentang Jakarta, Pak. Dengan demikian Pak Gubernur tidak akan salah dalam menata Jakarta. Agar Jakarta menjadi seperti yang diharapkan warganya, bukan yang diharapkan oleh segelintir orang.

Berikut ini adalah daftar impian saya tentang Jakarta. Saya urutkan dari yang paling penting menurut saya. Kalau Pak Gubernur ingin tahu tentang impian warga lainnya, silahkan lakukan survey ya Pak.

  1. Trotoarnya lebar-lebar, rata dan aman tanpa lubang maut, dan tersebar merata hingga ke pelosok perkampungan, termasuk perkampungan tempat saya tinggal.
  2. Penambahan jumlah jembatan di atas 13 sungai yang melintasi Jakarta.
  3. Bantaran sungai yang hijau, penuh pohon bambu pelindung bantaran, bersih dari sampah agar Jakarta bebas banjir, dan bantaran itu dapat dijadikan taman bermain atau lokasi olah raga pagi.
  4. Kendaraan umum yang tertata dan cukup dengan layak. Saya tidak perlu angkot lewat di depan rumah saya. Saya tidak butuh angkot untuk perjalanan berjarak 1 atau 2 km, Pak. Saya butuh olah raga.  Dan itu berarti saya butuh trotoar yang lebar dan aman.
  5. Pengelolaan sampah yang profesional dan mutakhir.
  6. Penambahan panjang jalan yang lebarnya 12m. Bukan pelebaran jalan yang sudah lebar (bukan jalan seperti Gatot Subroto dilebarkan). Tujuannya supaya ‘jalan tikus’ tidak terlalu sempit dan nyaman digunakan sehingga tidak perlu bikin stress seperti sekarang ini.
  7. Peningkatan kualitas jalan dari gang menjadi row 12m. Maksudnya, agar sebisa mungkin semakin banyak rumah orang yang langsung berhubungan dengan jalan mobil, sehingga mereka tidak parkir di pinggir jalan.
  8. Pelaksanaan rencana tata bangun ruang yang katanya sudah berumur puluhan tahun tetapi tidak juga terlaksana.
  9. Perbaikan pintu perlintasan kereta api.  Atau mungkin lebih baik: Pembangunan jalan kereta api layang.
  10. Semua jalan diberi marka yang benar. Marka jalan bukan cuma tentang mengecat jalan, Pak. Tetapi memastikan bahwa garis yang dibuat adalah benar.

Saya yakin, Pak kalau semua hal tersebut dikerjakan, Jakarta pasti tambah teratur. Kalau Bapak kurang paham tentang bagaimana mewujudkan harapan-harapan tersebut, nanti saya akan jelaskan satu-persatu secara lebih terperinci.

Wassalamu’alaikum w.w.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Januari 2012 in Rencana

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 137 pengikut lainnya.